Dunia IT Bukan Hanya Milik Kaum Laki – Laki

Ingin mendapatkan tool dan tutorial pemrograman gratis? Kunjungi Intel Developer Zone http://sh.teknojurnal.com/witidz

Beberapa waktu yang lalu, ketika tengah browsing di waktu senggang aku membaca sebuah artikel berita yang menampilkan lima sosok perempuan super yang berpengaruh di bidang Teknologi Informatika. Sebut saja Marissa mayer yang menjadi CEO Yahoo, Sheryl Sandberg yang menjadi Chief Operating Officer Facebook, Susan Wojcicki yang menjadi CEO Youtube dan dua lagi yang tak bisa aku ingat namanya yang dimana dalam artikel tersebut menjelaskan semua perempuan super tersebut menguasai coding . Membacanya membuatku merasa senang. Perempuan memang seharusnya tidak lagi dipandang sebelah mata dalam bidang teknologi informatika. Hal ini Membuatku teringat akan keyakinanku beberapa tahun silam, ketika aku kelas II SMK.

Dunia teknologi informatika bukan hanya milik kaum laki – laki.

Kalimat itu yang sejak dulu selalu berdengung dan aku yakini hingga kini. Mindset atau pandangan bahwa dunia informatika hanya milik kaum lelaki harus dirubah apalagi di era yang penuh digitalisasi seperti sekarang. Stereotipe tersebut muncul hanya karena bidang informatika lebih banyak didominasi oleh kaum laki – laki. Sedikit sekali perempuan yang tertarik untuk berkarir dan menggeluti bidang ini lebih mendalam. Serta kebanyakan mindset bahwa perempuan hanya mampu berfikir dengan perasaan atau emosinya daripada menggunakan logika sementara di bidang informatika modal utama yang diperlukan adalah kemampuan berlogika terutama di bidang pemrograman ( coding ). Akan tetapi, kenyataan tersebut bukan berarti tidak ada perempuan yang tidak mampu untuk berkecimpung dibidang ini. Meski sedikit, eksistensi perempuan di bidang teknologi informatika layak diperhitungkan karena pada kenyataannya masih ada perempuan – perempuan yang mampu untuk memiliki passion di bidang ini.

Hal ini membuatku kembali teringat bagaimana pengalamanku sendiri terjun di bidang informatika. Ketertarikanku pada dunia komputer sudah muncul sejak dibangku Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) dimana aku pertama kalinya mendapat mata pelajaran komputer. Saat itu karena keterbatasan fasilitas sekolah, satu komputer harus dipakai oleh tiga orang. Aku sering mengajukan pertanyaan yang selalu membuatku penasaran kepada guru komputerku, entah saat pelajaran maupun diluar jam pelajaran serta membuat catatan – catatan tambahan mengenai segala bentuk hal yang berkaitan dengan komputer. Hal itu karena bentuk ketidakpuasanku karena jam pelajaran komputer yang hanya dua jam dalam seminggu dan itupun harus berbagi komputer sehingga aku tidak bebas dalam menggunakannya. Aku penasaran dan selalu berfikir apa saja yang bisa dikerjakan dengan menggunakan komputer. Rasa penasaranku semakin tinggi sehingga aku harus menyisihkan uang jajan untuk menyewa sebuah komputer di rental komputer meski sekedar hanya untuk belajar mengetik. Saat itu aku belum mengenal internet sama sekali.

Ketika lulus SMP, semua temanku berbondong – bondong mendaftar ke sekolah Menangah Atas ( SMA ) favorit di kotaku namun tidak denganku, karena aku mendengar biaya masuk kesana sangat mahal. Aku pun mulai memutar otak dan mencari sekolah yang bisa terjangkau olehku hingga menemukan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri ( SMKN ) dimana disitu terdapat program studi komputer yang masih tergolong baru didirikan. Setelah mempertimbangkan, selain memiliki keterampilan komputer, aku bisa langsung melamar kerja setelah lulus sekolah. Aku pun mendaftar disana.

Di SMKN, program studi komputer dipecah lagi menjadi tiga jurusan yaitu Rekayasa Perangkat Lunak ( RPL ), Multimedia ( MM ) dan Tehnik Komputer Jaringan ( TKJ ). Setelah membaca brosur dan bertanya, aku bisa meraba sedikit perbedaan ketiga jurusan tersebut. Ketika mendaftar aku memilih dua jurusan. Pilihan pertama jatuh pada jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, dan pilihan kedua jurusan Akutansi karena aku tidak tertarik dengan multimedia maupun tehnik komputer jaringan bahkan lebih terkesan takut terlebih dahulu. Entah kenapa aku hanya tertarik dengan jurusan RPL padahal aku sendiri belum bisa memahami jurusan seperti apa sebenarnya RPL tersebut. Kemudian aku mulai mengikuti tes masuk. Dan ternyata aku diterima di jurusan RPL, membuat semangatku semakin tumbuh.

Setahun pertama, menjadi masa kebingungan bagiku. Hampir setiap hari aku menerima materi tentang komputer, meski ada beberapa materi umum seperti matematika, bahasa inggris, bahasa indonesia, dan lain – lain yang aku terima. Semua guruku sebagian besar laki – laki. Dari materi komputer yang aku terima aku mengerti segala jenis perangkat – perangkat komputer, organisasi komputer, software – software komputer, dunia internet, bahasa pemrograman dan database yang benar – benar membuat pusing kepala. Bahasa pemrograman di tahun pertama yang aku terima adalah tentang algoritma pemrograman, bahasa pascal dan sedikit pengenalan bahasa c dan delphi serta pengolahan database mulai dari microsoft access, foxpro dan mysql. Selain materi, aku juga mendapat tugas yang selalu dideadline setiap minggu, entah tugas membuat makalah, membuat aplikasi sederhana, membuat game sederhana, yang kadang membuat aku dan teman – teman sangat kebingungan dibuatnya. Di tahun pertama ini pula aku mengenal tentang internet, perkembangan internet saat itu tidak sepesat seperti sekarang yang bisa didapat dengan mudah melalui handphone, modem maupun wifi. Selain di sekolah kami para pelajar bisa menggunakan internet hanya di warnet milik PT. Telkom sebagai satu – satunya ISP ( Internet Service Provider ) di kotaku kala itu. Dengan tarif Rp. 5000 rupiah kami bisa menggunakan internet selama satu jam. Aku selalu menyisihkan uang saku demi untuk bisa berinternet ria disana. Dengan internet semakin menambah banyak pengetahuanku. Aku mulai mengenal dunia browsing, chating, blogging serta aktif dibeberapa mailing list dan forum internet.

Di tahun kedua, pendalaman materi komputer semakin meningkat dengan penambahan level pemahaman, penambahan bahasa pemrograman dan pengenalan dengan dunia design grafis. Di tahun kedua ini aku mengenal bahasa pemrograman berbasis web seperti php, java, html, asp, css dll dan pendalaman pengolahan database mulai dari membuat algoritma, membuat entitas, merancang relasi tabel dan memadukannya dengan bahasa pemrograman melalui query – query php & sql kemudian sekaligus mempelajari tentang design grafis menggunakan adobe photoshop, corel draw, swishmax, dan flash . Di tahun kedua ini pula kemampuanku diuji. Aku tidak merasa bahwa aku bisa menguasai semua yang telah diajarkan sejak tahun pertama, karena terus terang aku mendapatkan semua materi hanya di sekolah, bahkan meski sekolah di jurusan komputer hingga kelas dua pun aku belum memiliki perangkat komputer sendiri dirumah seperti teman – temanku. Ibuku tidak pernah mengabulkan permintaanku untuk memiliki komputer, ekonomi kami pas – pas an. Bisa sekolah saja aku sudah sangat bersyukur. Namun melihat setiap nilai – nilai teori dan praktekku yang selalu memuaskan bahkan selalu menduduki peringkat kelas pertama membuatku terpilih menjadi wakil sekolah jurusan RPL dalam lomba kompetensi siswa tingkat provinsi. Saat itu lomba diadakan di kabupaten Tulungagung, jauh dari tempat tinggalku. Awalnya aku menolak karena masih banyak teman – temanku yang laki – laki, yang sekiranya lebih pantas untuk dipersaingkan. Agar adil, guruku memilih beberapa kandidat dari jurusan RPL, kami pun menjalani test seleksi dengan hasil aku terpilih sebagai wakil RPL mengalahkan peserta test seleksi yang semuanya adalah laki – laki. Dengan dukungan dari para guru – guruku, teman – temanku dan ibuku akhirnya aku pun menyanggupi. Muncul keyakinan dalam hatiku, meski perempuan aku harus bisa.

Setelah menyanggupi, aku harus menjalani proses pelatihan intensif selama tiga bulan. Beban yang semakin berat terasa dipundak, karena selain mengikuti materi normal sekolah setelah jam berakhir aku harus kembali mengikuti pelatihan yang tak jarang hingga sore hari atau kadang malam. Yang membuatku senang adalah aku seperti menjadi murid prioritas, aku mendapat fasilitas seperangkat komputer sendiri yang bisa aku gunakan kapanpun saja dilengkapi dengan fasilitas internet di salah satu ruang laboratorium komputer sekolahku. Tidak ada yang boleh menggunakan komputer tersebut selain aku. Selama proses pelatihan aku dibimbing oleh beberapa mentor – mentor hebat yang tak lain adalah guru – guruku sendiri dengan fokus materi sesuai kompetensi mereka masing – masing. Dan lagi, semuanya laki – laki. Belum ada guru IT perempuan yang menjadi pembimbingku saat itu. Dari proses pelatihan tersebut aku semakin mendapat banyak ilmu dan pengetahuan terutama dalam bidang pemrograman website sesuai dengan tema yang akan dilombakan.

Hampir setiap waktu aku hanya bergelut dengan pemrograman web, mulai dari belajar menyiapkan semua software dan konfigurasi webserver, membuat template dan design web sendiri, membuat banner dan logo sendiri, membuat layout sendiri, merancang database hingga coding mengerjakan query – query sql dan php dengan media editor macromedia dreamweaver. Sungguh bukan suatu pekerjaan yang mudah. Apalagi saat materi design grafis, aku lemah dalam dunia design, sehingga aku harus benar – benar bekerja keras untuk bisa design grafis. Aku memilih RPL karena aku berfikir tidak akan terlibat dalam dunia multimedia dan jaringan, tetapi aku salah, justru aku harus belajar ketiganya. Sebagian besar temanku mengeluh bahwa mereka salah memilih jurusan, menurut mereka pelajaran coding jauh lebih susah daripada design grafis, namun bagiku justru kebalikannya. Aku bisa saja menghabiskan waktu berhari – hari hanya untuk memadukan warna.

Yang paling membuatku selalu teringat masa – masa itu adalah bagaimana aku menghabiskan sebagian besar waktuku duduk didepan layar. Mendapat materi pelatihan kemudian menuangkannya dalam tugas, mengerahkan fikiran menggunakan logika ku, merancang dan menuangkannya kedalam bentuk relasi dan script – script code query, yang hampir selalu diikuti oleh error message. Ketika error muncul, programku tidak akan berjalan lancar tetapi membuat rasa penasaranku semakin bertambah. Susah untuk beralih dari layar sedetikpun hingga tak jarang lupa waktu. Terkadang membutuhkan waktu seharian hanya sekedar untuk menemukan satu kesalahan saja.

Aku hampir tidak percaya diri, ketika mendapat kabar terkait lomba. Kami hanya diberi waktu 10 jam dalam membuat sebuah website dari nol. Semua materi pelatihan yang aku dapat selama tiga bulan harus bisa aku kerjakan dalam waktu 10 jam. Aku berlatih keras dan berfikir aku tidak akan pernah tahu sebelum aku mencobanya. Bermodal bismillah dan keyakinan akupun melakukannya. Pada akhirnya toh aku bisa. Bagiku ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa.

Di tahun kedua pula kami harus menjalani praktek kerja lapangan, dimana kami harus benar – benar terjun ke lapangan kerja. Belajar bekerja. Saat itu aku mendapat tempat di PT. PLN selama dua bulan. Selama PKL, ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan. Aku lebih banyak berinteraksi dengan pekerjaan para karyawan di PT. PLN tersebut yang mayoritas hanya sebatas entry data, mengetik, fotocopy dan mengantar surat.

Ditahun ketiga, materinya jauh lebih intensif lagi, dimana aku harus mengikuti UAN, UAS, Ujian Praktek dan Mengerjakan tugas akhir. Ternyata sekolah di kejuruan jauh lebih sulit dari yang aku bayangkan. Selain UAN dan UAS, kami harus melalui berbagai ujian praktek disegala mata pelajaran terutama mata pelajaran yang berkaitan dengan rekayasa perangkat lunak, kami juga harus menciptakan sebuah program aplikasi atau sistem yang lengkap sebagai wujud tugas akhir kami. Kemudian tugas akhir tersebut akan diujikan dengan mengundang penguji eksternal sekolah. Aku memilih sistem pemrograman website sebagai tugas akhirku.

Setelah lulus dari sekolah kejuruan, harapanku untuk menggeluti jurusanku semakin besar, tetapi sayang aku tidak punya biaya untuk melanjutkan kuliah. Tujuanku saat itu hanya bisa bekerja. Aku masih ingat, setelah menerima ijasah dan masih berseragam lengkap aku tidak langsung pulang melainkan menuju kesebuah warnet di samping sebuah toko komputer bersama seorang teman baikku dari jurusan akutansi. Saat aku lulus sudah banyak warnet bermunculan di kotaku. Harapanku saat itu hanya mendapat pekerjaan dan aku bisa mencarinya dari internet, karena aku tahu jika aku tidak sekolah maka uang saku akan terhapus juga. Artinya aku harus bekerja. Selama sejam browsing, aku hanya bisa menunduk banyak loker bermunculan dan kebanyakan di luar kota. Tentu saja itu tidak mungkin dengan pemikiran ibuku yang kolot bahwa perempuan tidak baik bekerja keluar kota. Aku dan temanku bercakap – cakap didepan warnet dan tanpa sengaja mengamati toko komputer disamping warnet. Bagaimana kalau aku bertanya ke toko itu?!pikirku saat itu. Temanku mendukungku. Akupun memberanikan diri bertanya. Pemiliknya orang cina, aku mencoba bertanya apakah aku bisa bekerja disini dan menunjukkan ijasah, transkrip nilai yang baru saja aku terima beserta berbagai piagam dan sertifikat yang aku miliki. Saat itu juga pemilik toko itu memintaku untuk memasang sebuah PC, dan akupun melakukannya. Setelah mengamati, ia memintaku membuat surat lamaran. Tanpa pikir panjang, aku kembali ke warnet dan membuat disana, melengkapi semua isi lamaranku dan menyerahkannya ke pemilik toko tersebut. Ia menyuruhku pulang dan akan mengabari keputusannya. Aku hanya bisa berharap semoga aku bisa diterima meski sedikit ada rasa pesimis. Sungguh sebuah kebesaran Allah Swt, Malam harinya aku mendapat sebuah sms, ternyata pemilik toko, yang mengatakan bahwa besok aku bisa mulai bekerja.

Pengalamanku bekerja dimulai, meski hanya sebagai pegawai toko aku senang karena setidaknya tidak meleset dari bidang komputer. Yang lebih membuatku senang, Allah memberiku kemudahan dalam mendapat pekerjaan. Sebagai pegawai baru, nasibku sedikit beruntung karena kemampuan yang aku miliki aku langsung mendapat kepercayaan untuk menangani perakitan PC, proses instalasi operating system ( OS ), dan mengatasi trouble – trouble ringan layaknya seorang teknisi. Aku merasa geli setiap melihat obeng ditanganku. Ketika tidak ada pelayanan tersebut, akupun juga bertugas di bidang penjualan. Dari toko tersebut, aku mendapat banyak pengetahuan baru, mulai dari berbagai jenis alat – alat komputer dan aksesorisnya, serta penanganan – penanganan trouble tentang komputer. Dalam hati sedikit merasa bersalah pernah tidak menyukai materi tehnik komputer jaringan ( TKJ ) seperti perakitan, instalasi, problem solving, dst ketika di sekolah karena ketika mendapat pekerjaan pertamaku justru aku lebih banyak berkecimpung dalam dunia TKJ, bukan pemrograman.

Bekerja di sebuah toko bagiku saat itu sudah merupakan rezeki besar, karena aku tahu betapa sulitnya mencari sebuah pekerjaan. Mungkin nasibku memang sedang bagus hingga aku bisa lansung diterima. Namun tak disangka, menjelang dua bulan waktuku bekerja, aku mendapat kabar dari salah satu guruku bahwa aku harus resign dari tempat itu. Lagi – lagi, Allah memberikan kejutan besar. Aku direkrut menjadi salah satu pegawai IT di salah satu kampus kesehatan dikotaku. Tentu saja aku tidak menolak, maka segera kuurus proses resign ku meski dengan tak enak hati. Sebagai permohonan maafku pada pemilik toko aku pun berusaha mencarikan penggantiku sebelum aku resign, kebaikannya untuk memberikan kepercayaan kepadaku dengan bekerja dengannya membuatku merasa sangat berhutang budi, begitu aku menemukan penggantiku akupun resign. Aku merekomendasikan temanku. Dan saat itu aku yakin dia mampu untuk bekerja lebih baik dariku.

Akhirnya, setelah dua bulan menjadi pegawai toko, aku resmi menjadi IT Support di salah satu Perguruan Tinggi Kesehatan di kotaku. Aku bekerja lansung dibawah koordinator laboratorium komputer kampus yang sekaligus menjabat sebagai dosen komputer disana. Ia menerimaku atas rekomendasi dari guru – guru SMK ku. Disini pengalamanku di bidang komputer semakin terasah karena aku menjadi pegawai multitasking. Aku menyebut diriku pegawai multitasking karena aku seorang diri. Terkadang aku menjadi designer dimana aku bergelut dengan dunia design. Aku mulai berusaha menyukai dunia grafis dan semakin banyak belajar. Banyak tugas yang harus aku kerjakan yang berkaitan dengan design grafis seperti membuat banner, brosur, pamflet, leafleat dan media promosi kampus yang berkaitan dengan gambar dengan atasanku sebagai konseptornya. aku menggunakan media adobe photoshop dan corel draw kala itu. Kemudian aku juga menjadi seorang teknisi komputer dimana aku harus merakit sebuah PC, instalasi operating system, mengatasi trouble pada PC – PC yang bermasalah, maintenance jaringan internet, menjaga stabilitas PC – PC yang digunakan dan menjaga peralatan laboratorium karena aku bertanggung jawab penuh atas laboratorium. Disamping itu aku juga menjadi seorang programmer yang menciptakan dan mengelola website kampus. Ketika atasanku berhalangan atau sibuk diluar kota, terkadang aku juga menjadi asisten dosen untuk mengajar para mahasiswanya dimana saat itu usia para mahasiswa jauh diatasku. Materi yang diajarkan lebih menekankan pada penggunaan komputer dan internet dalam dunia kesehatan.

Atasanku tersebut seorang laki – laki yang sangat pintar dan penyabar. Selalu memberikan bimbingan, saran, kritikan dan motivasi agar aku terus bersemangat mengasah kemampuanku. Dia memberiku kebebasan mengembangkan diri dan selalu memberiku keyakinan bahwa aku pasti bisa menjadi seorang teknisi handal.

Setahun pertama bekerja, harapanku untuk melanjutkan sekolah kembali muncul. Aku sudah sedikit menabung untuk bisa mendaftar kuliah, namun aku masih mencoba mencari beasiswa hingga aku menemukan salah satu kampus yang memberikan beasiswa penuh. Kampusnya berlokasi di jakarta. Aku mendaftar dan memenuhi seluruh berkas administratif yang disyaratkan, dan mengirimnya diam diam. Hampir empat bulan aku menunggu kabar hingga kemudian aku mendapati namaku lulus beasiswa ditahap satu. Aku harus melanjutkan tes tahap berikutnya agar benar – benar lulus. Hatiku girang bukan kepalang saat itu karena aku bisa melanjutkan sekolah tanpa biaya, akhirnya aku memberanikan diri mengatakan pada atasanku dan juga keluargaku. Ibuku tentu saja shock mendengar lokasinya di Jakarta, atasanku juga keberatan, aku mencoba meyakinkan banyak orang dan saat pelaksanaan tes tahap kedua aku harus berangkat ke surabaya. Karena tes tahap kedua dilaksanakan di ibukota masing – masing provinsi. Mereka memberiku kesempatan dan akhirnya aku pun berangkat. Sepulang dari surabaya, nasib berkata lain, ibuku jatuh sakit, terkena serangan stroke parah yang membuatnya setengah lumpuh, dan membuatku harus membuang jauh – jauh beasiswa tersebut.

Akhirnya, aku memutuskan mendaftar kuliah di salah satu perguruan tinggi komputer di kotaku. Aku memutuskan mengambil kelas malam, karena di siang hari aku harus bekerja. Aku harus tetap bekerja agar aku bisa membiayai kuliahku hingga lulus, serta membiayai hidupku dan ibuku. Dengan modal niat dan ilmu yakin, Aku mengambil jurusan S1 Tehnik Informatika. Aku lulus test masuk dan resmi menjadi mahasiswi informatika. Yang membuatku kembali melongo saat itu, hampir sebagian besar mahasiswa kampus adalah laki – laki. Perempuannya hanya bisa dihitung jari.

Pengalaman hidup yang luar biasa kembali aku dapatkan, bekerja sambil kuliah serta mengurus ibuku yang sedang sakit. Hidupku seperti roda, dalam sehari semalam berputar – putar kesana kemari. Rumah, tempat kerja dan tempat kuliah. Tempat transitku hanya masjid ke masjid. Aku tidak memiliki kendaraan sendiri sehingga aku harus benar – benar bisa mengatur waktu. Juga mengatur biaya kuliah, biaya hidup dan biaya transportasiku setiap hari. Disamping kuliah aku juga belajar enterpreneur untuk menambah pemasukan meski tak jarang kadang meminta bantuan temanku untuk sekedar mengantar pulang.

Pengetahuanku dibidang IT tentu saja mengalami banyak peningkatan. Ditempat kerja aku menemukan banyak hal yang harus bisa aku atasi, ditempat kuliah aku mendapat banyak asupan pengetahuan yang lebih luas dan berkembang, karena basic ku dari awal didunia IT membuatku lebih cepat memahami mata kuliah dan hal – hal baru yang terkait dengan bidang IT, aku mengambil fokus jurusan pemrograman ( Programming ). Tingkat kesulitan dunia programming bagi sebagian orang jauh lebih tinggi, tetapi aku menyukainya. Namun meski fokus jurusan programming bukan berarti aku tidak mempelajari dunia multimedia dan networking. Aku mendapat materi dari ketiga bidang tersebut baik secara teori maupun praktikum, dengan lingkup materi yang jauh lebih luas dari sekolah kejuruanku dulu. Dunia programming aku mempelajari tentang bahasa c#, bahasa C++, dhelphi, java, php, asp, ajax, css, html, android dengan berbagai software aplikasi yang tidak aku ketahui sebelumnya seperti sharp develop, matlab, edit+, borland dhelpie, netbeans bahkan notepad sekalipun yang ternyata baru aku tahu bisa digunakan sebagai editor pemrograman. Mempelajari berbagai sistem pemodelan program dan metode yang bisa aku implementasikan. Di dunia multimedia aku mendapat pengembangan tentang tehnik – tehnik design grafis, software – software aplikasi selain adobe photoshop dan corel draw, bahkan merambah kedunia animasi grafis dan multimedia ( film ). Di jaringan aku mendapat penambahan pengetahuan ke tingkat jaringan yang lebih tinggi, bukan sekedar merakit atau belajar pengkabelan tetapi merambah ke perakitan dan instalasi jaringan baik client maupun server.

Atasanku sangat mendukungku yang mengambil fokus pemrograman, bahkan memberiku banyak tugas dalam programming sehingga apa yang aku pelajari dikampus bisa lansung aku uji cobakan di tugas yang aku terima di tempat kerja. Lalu kapan aku mengerjakan tugas kuliah?! Bergadang adalah solusinya. Alhamdulilah, selama masa kuliah aku selalu mendapat beasiswa prestasi, saat semester tiga aku akhirnya bisa membeli sebuah perangkat komputer sendiri hingga aku tidak kesulitan lagi mengerjakan tugas dirumah. Ternyata Allah memampukanku disaat aku benar – benar membutuhkannya. Meski bekerja dengan begitu banyak tanggung jawab, aku bisa mengatasi semuanya dengan baik, mengerjakan tugas – tugas kuliah dengan tepat waktu, meraih prestasi dan hingga kemudian aku bisa lulus dengan predikat cumlaude.

Menjelang kelulusanku, atasanku merekrut dua orang sebagai staff IT. Kami sepakat mendirikan tim ICT ( Information Center Technology ) di kampus tempatku bekerja. Dengan hanya berdua tentu kami akan mendapat banyak kesulitan mewujudkan hal itu. Akhirnya aku mendapat teman setelah hampir lima tahun lamanya. Dan keduanya adalah laki – laki, mereka lebih kearah multimedia dan networking sehingga kami bisa sama – sama belajar kolaborasi. Empat tahun kemudian atasanku kembali merekrut seorang lagi yang memiliki passion di bidang programming. Rekan baruku fresh graduate, kemampuannya luar biasa dan dia laki – laki. Sekarang kami menjadi sebuah tim dengan lima personil. Dan aku, satu – satunya perempuan yang bekerja bersama mereka hingga saat ini.

Dulu aku sempat bertanya pada atasanku apa tidak ada satu perempuan lagi yang bisa bergabung bersama kami. Atasanku hanya menjawab tidak mudah untuk mendapatkan perempuan yang benar – benar bisa IT. Terkadang aku juga memikirkan, dari semua teman – teman perempuanku baik ketika SMK maupun kuliah ketika lulus mereka merubah haluan mereka dari bidang yang pernah kami pelajari bersama. Mereka menganggap dunia IT terlalu sulit bagi perempuan untuk dijadikan sebagai karir, dan sebagian besar dari mereka hanya mau menjadi konsumen atau pengguna teknologi seperti menggunakan social media untuk menjalin pertemanan atau media promosi bisnis, bermain game, browsing atau sekedar shopping online.

Hal ini menunjukkan bahwa minat perempuan di dunia IT masih tergolong dangkal. Asumsi tingginya tingkat kesulitan di dalam bidang ini membuat kepercayaan diri kaum perempuan menjadi down. Padahal dengan melihat perkembang teknologi informatika saat ini yang menuntut semua kalangan untuk tidak gagap teknologi ( gaptek ), akan menciptakan banyak peluang dan lapangan kerja yang sangat luas. Hal ini pun mampu menambah kualitas perekonomian di negara kita apalagi melihat banyak sekali perempuan yang memilih bekerja meski sudah berumah tangga. Aku berharap, semakin kedepan banyak generasi – generasi perempuan yang mau belajar dan terjun kedalam bidang teknologi. Dengan terobosan dan inovasi – inovasi baru di bidang teknologi, pasti mereka mampu menciptakan peluang dan lapangan kerja yang akan bermanfaat bagi kesejahteraan bersama.

Yang selalu ku yakini, selama kita berusaha tidak ada yang tidak mungkin untuk kita lakukan. Allah Swt membuat segalanya menjadi mungkin untuk dilakukan, untuk diraih. Perbedaan gender bukan sebuah alasan untuk kita tidak bisa menggeluti suatu bidang ilmu. Hal ini juga menjadi suatu cerita yang bisa meyakinkan kita bahwa perempuan tidak harus memiliki keterbatasan eksistensi hanya karena bidang yang diminati didominasi oleh kaum laki – laki. Laki – laki pun memiliki kesempatan yang sama, lihat saja di jaman sekarang banyak sekali laki – laki yang menjadi seorang koki hebat melebihi kaum perempuan yang notabene ditakdirkan untuk memasak. Begitu juga sebaliknya, perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengembangkan diri di bidang yang mungkin saja didominasi oleh kaum pria. Seperti halnya teknologi, olahraga, dan bidang lainnya. Jika tak pantang menyerah, kita akan tahu bahwa kita pun bisa seperti mereka. Perempuan memiliki hak dan peluang yang sama untuk berkarir dan menjadi penggiat teknologi. Teknologi bisa menjadi sebuah passion cemerlang bagi perempuan karena dunia teknologi bukan hanya milik kaum laki – laki. Semua hanya perlu sebuah niat, tekad dan minat yang kuat. Berangkat dari keyakinan pada Allah dan diri sendiri, Nothing impossible!! Anything can happen as long as we believe.

Intel-RealSense

Iklan

8 thoughts on “Dunia IT Bukan Hanya Milik Kaum Laki – Laki

  1. setuju, memang melihat perkembangannya saat ini, tidak selamanya laki – laki menjadi penguasa dunia teknologi. wanita juga bisa berperan besar baik secara profesional maupun tidak.

    Suka

    • hanya saja kendalanya, banyak para wanita tidak memiliki kepercayaan diri. tapi seperti harapan saya, semoga banyak generasi muda yang mampu dalam hal ini. karena biasanya setelah menikah, semangat mereka menjadi mundur.

      Suka

  2. “Semua hanya perlu sebuah niat, tekad dan minat yang kuat. Berangkat dari keyakinan pada Allah dan diri sendiri, Nothing impossible!! Anything can happen as long as we believe.”
    Luar biasa Mbak, saya belajar banyak dari tulisan ini😃😃

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s