Ketika Playgroup menjadi Pilihan

sumbergambar : Dreamstime.com

Playgroup aka kelompok bermain,

Sebenarnya tidak pernah terfikir oleh kami akan memasukkan qisya ke playgroup, karena pada awalnya aku dan suami sepakat untuk menghomeschooling qisya sendiri sebelum usia TK dan baru memasukkannya ke sekolah di usia 5 tahunnya di Taman Kanak – Kanak nanti. kami berusaha melakukan stimulasi – stimulasi secara optimal dirumah karena kami tidak ingin melewatkan masa Golden Age nya. Bagi  kami, usia balita adalah masa emas untuk pembentukan karakter dan mental anak. Atau yang biasa dikenal dengan istilah “golden age”. Menurut para ahli pada usia ini, kecerdasan seorang anak berkembang sangat pesat sesuai dengan pola pengasuhan dan pengajaran yang diterimanya dalam keluarga. Seperti yang kita tahu, Sumber awal pendidikan bagi seorang anak adalah dari rumah ( keluarga ) sehingga sudah menjadi kewajiban untuk orang tua untuk menciptakan lingkungan rumah sebagai sarana belajar utama yang menyenangkan.

Dan  seperti yang kami yakini jika orang tua mampu memberikan stimulasi optimal dan pendidikan pra sekolah di rumah, maka playgroup tidak begitu dibutuhkan. Ya meski kami bekerja, kami berusaha kompak dalam memberi perhatian dan stimulasi untuk anak. Satu tahun pertama, dua tahun pertama, tidak masalah, pernah juga saya share pengalaman dan materi tentang homeschooling qisya diSINI. di tiga tahun pertama, homeschooling kami masih berjalan materinya mulai berkembang lebih ke arah pembentukan karakter, kami mengadaptasi materi dari berbagai sumber, yang jelas materinya benar – benar sesuai untuk anak usia dini, kami memaksimalkan fasilitas yang dibutuhkan, namun disini kami mendapat kesulitan yang tidak kami sangka – sangka, ketika Qisya mulai membutuhkan Teman.

Kami hidup di lingkungan kota dan jalan raya dimana anak – anak  balita tidak bisa bebas bermain bersama, bahkan semua lebih terkesan individualistis. Untuk mengatasi hal itu, Kami sudah mengajarkannya bersosialisasi kerumah saudara atau kerumah teman setiap akhir pekan sejak usianya menginjak satu tahun, sehingga di usianya yang ke tiga tahun dia mulai memahami arti dari teman bermain. ia mulai merengek setiap kali ia ingin bermain bersama temannya karena bosan hanya dirumah, bahkan tak jarang kami harus mencarikan ia teman untuk dibawa kerumah, hehe saat itu, masalah baru muncul,  saudara yang sering bermain bersama mulai memasuki dunia TK, hingga ia tak bisa lagi sering berkunjung dan dari situ ia mulai paham bahwa temannya bersekolah, kemudian ia merengek meminta sekolah.

Awalnya kami hanya menganggap bahwa hal itu hanya rengekan semata, kami hanya mengacuhkannya, namun lama – lama semakin parah bukan saja berimbas pada rengekan, namun hingga tantrum yang luar biasa, sebagai alternatif akhirnya kami lebih aktiv membawanya bermain bersama diluar rumah, terkadang mengunjungi saudara atau teman, yang bisa diajaknya bermain, sempat kucoba hingga membawanya ke perkampungan dekat rumah namun masyaallah saya harus banyak ngelus dada, anak – anak kecil juga balita disana banyak yang memakai kosakata yang tidak bagus untuk berkomunikasi, bahasa yang kasar dan tidak pantas, dan saya tentu saja sangat khawatir akhirnya tidak lagi kuperbolehkan, ia merajuk lama.

Kemudian ia merengek minta sekolah kembali, akhirnya kubawa dia bekerja sebagai ganti sekolahnya. Membawanya bekerja sudah biasa bagiku, alhamdulillah lingkungan kerjaku sangat mendukung kodrat seorang ibu, tidak ada larangan mengajak anak bekerja selama pekerjaan kami beres tepat waktu, tetapi lambat laun lagi – lagi qisya yang merasa bosan, ia mulai protes dan mengatakan tidak ada teman, tidak ada ayunan dan menangis kwkkwkw,

Ia mulai tantrum luar biasa, setiap hari, paling parah setiap pagi, apalagi ditambah kami bekerja kami mulai kerepotan mengatasi tantrumnya, hal ini berlansung selama tiga bulan hingga akhirnya kami mencari tahu tentang playgroup aka kelompok bermain, saya mulai banyak mencari tahu dan survey sekolah playgroup yang cocok dengan usianya yang masih tiga tahun, bahkan saya sempat merasa galau tingkat dewa melihatnya semangat untuk sekolah, pikiran saya macam – macam, yang saya takutkan ia mendapat pendidikan yang belum waktunya karena jaman sekarang banyak sekali sekolah yang seperti itu, menerapkan calistung di usia dini, menerapkan lebih banyak teori daripada yang seharusnya yakni bermain, setelah browsing sana sini, survey sana sini, bahkan sempat bingung mana ada sekolah yang menerima muridnya dipertengahan semester. Juga banyak sekali pertimbangan yang harus kami pikirkan sebelum kami memutuskannya hingga akhirnya kami memilih satu playgroup yang kami rasa tepat diantara yang banyak dan menerima dengan senang hati meski sudah ditengah semester, enggak enaknya kita tetap kudu bayar full kwkwkkwkw .

Resmi mendaftar, hari pertama sekolah, enggak mau pulang, kwkwkkwkwkw girang punya banyak teman, girang bisa mencoba banyak mainan. Dan barakallahu, sudah berlansung selama enam bulan, dan kami melihat perubahan yang sangat luar biasa. Subhanallah, putri kami lebih mandiri daripada sebelumnya, ekspresif, lebih banyak bertanya, mengerti tanggung jawab dan berbagi, mengeksplorasi banyak hal, dan percaya diri, yang terpenting ia mulai lebih mengerti tentang berdoa, sholat,mengaji, berbagi, suka membantu dan memaafkan karena bagaimanapun sebagai orang tua saya selalu berharap bahwa pondasi utama adalah Agama dan Akhlak, orang tua dan guru – guru pengasuh cukup jadi penentu penting hal hal itu. Bahkan sekarang ia selalu ingin melakukan segala sesuatu dimulai dari dirinya sendiri, dan selalu bilang “Mama, aku bica” .

Akhirnya saya pun mulai menyadari, kenapa harus  galau gak jelas, maafkan saya sempat mengalami masa – masa lebay di awal – awal dia mengikuti playgroup kekkekeke bahkan sampai kelas berakhir saya dan neneknya bergantian menunggu hingga waktu pulang, maklumilah anak pertama dan qisya juga masih proses adaptasi haha. Namun melihat perubahan yang luar biasa seperti ini hati saya senang, ia mendapat tempat bermain yang lebih terarah dan bermanfaat, dan bye bye tantrum.

Bagaimanapun kita adalah mahluk sosial begitu pula dengan anak kita, terlebih lagi kami egois meninggalkannya bekerja namun tidak memberinya kesempatan bersosialisasi diluar kami, padahal itu sangat bermanfaat sekali dalam pembentukan karakternya, dengan niat ikhlas dan yakin, insyaallah ALLAH akan selalu memudahkan segalanya,  memberikan yang terbaik, dan penjagaan yang Luar Biasa melebihi kita yang hanya manusia semata.

Bagi mak – mak bekerja yang anaknya kekurangan teman bermain, insyaallah playgroup menjadi salah satu pilihan yang bermanfaat dan layak dipertimbangkan, namun saran saya selektif ya memilih playgroup, karena dijaman sekarang jarang sekali playgroup termasuk sekolah dini yang menerapkan metode sentra, tentukan yang benar benar sesuai dengan kita dan pribadi anak kita, dan pilih sekolah yang lebih kuat pondasi keagamaannya, kredibilitasnya, pertimbangkan juga keamanan, biaya, dan jarak dari rumah, karena meski hanya dua jam cukup merubah rutinitas dan hidup kita mak xiixixixiixix……semangat .

regards,

ummuqisya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s