Refleksi 2017, banyak pencapaian besar, ujian pun tak kalah banyak.

PhotoGrid_1514173417684.pngBismillah, selamat pagi. Cuaca pagi ini cukup cerah sekali, setelah hujan berhari – hari dan mendung yang bergelayut rutin. Ide menulis pagi ini terlintas begitu saja, ketika memandang langit dari jendela kamar. Bersyukur bukan jendela kamar rumah sakit lagi, meski selang infus baru saja terlepas dari punggung tanganku yang nampak kurus karena belum berhasil menaikan berat badanku yang menurun drastis. Putri kecilku sedang pergi bersama tantenya,ia kupercayakan karena sudah merengek minta liburan sementara kondisi emaknya tidak memungkinkan, hingga aku punya waktu untuk mojok di blog.

Tak terasa yah kita sudah sampai di penghujung tahun 2017. Padahal sepertinya baru kemarin aja memperbaharui kalender, segala kenangan juga masih melekat erat seperti baru kemarin saja. Pasti banyak yang membahas tentang refleksi tahun kemudian berganti resolusi tahun baru.hehe biar kekinian aku juga ingin mengulasnya.

Waktu.sungguh berlalu dengan begitu cepat bagi yang merasa cepat dan berasa sangat lambat bagi yang merasa bosan.namun yang pasti waktu tetap berjalan.tak berhenti sekalipun dan tak kan pernah kembali.meski kadang setiap waktu yang kita lalui beraneka rupa dengan segala kenangan, pengalaman, kejadian yang kadang senang penuh kegembiraan kadang sulit penuh kesedihan.namun sebagai hamba Allah yang selalu percaya ,Allah maha adil atas segala yang terjadi kepada mahluknya, semua semata mata hanya wujud cintanya kepada kita.Allahu Akbar.

Yah seperti beberapa hal yang aku ceritakan di postingan sebelum – sebelumnya, sepertinya aku membuka awal tahun 2017 dengan banyak kenangan indah, seperti berlibur ke luar kota, melakukan outbond bersama si kecil, melakukan kegiatan mama mama ceria di sekolah playgroup si kecil, sekedar gathering bersama kawan – kawan hingga momen – moment menyenangkan dibeberapa hari besar seperti moment hari kartini, moment ramadhan dan moment hari raya lebaran.yang tentunya akan sangat banyak kalau diulas satu persatu, saking sibuknya bahkan aku sampai tak punya waktu untuk sekedar berbagi postingan.

Kami pun memiliki banyak target yang harus kami raih di tahun ini, dan alhamdulilah, perlahan tapi pasti Allah memberi kemudahan hingga target dan harapan2 kami berwujud perlahan – lahan bahkan sungguh diluar dugaan.terlepas dari itu kami pun menghadapi kesulitan – kesulitan yang sempat membuat kami kalut dan bingung dan sebagai muslim yang percaya bahwa semua yang kami terima adalah dari Allah, kami hanya bisa bertawakall.dibalik setiap kesulitan kami ada hikmah yang luar biasa. Dibalik setiap kesedihan kami ada kasih sayang dari Allah swt yang sungguh luar biasa.Masyaallah, akhirnya kami hanya bisa memotivasi diri, jangan pernah tertekan dengan apa yang tidak bisa kita kontrol diluar diri kita sebagai manusia, melainkan kami pasrahkan pada yang memberi hidup.

Banyak pencapaian besar namun ujiannya tak kalah banyak, akhir tahun kami tak seperti awal tahun kami. Apalagi Desember, yang menjadi bulan terakhir di penghujung tahun ini adalah bulan yang special namun cukup berat untuk dilalui.banyak hal besar terjadi apalagi di bulan desember ini, Bertepatan dengan bulan kelahiran nabi muhammad saw, juga bertepatan dengan semua orang diseluruh dunia merayakan hari perempuan yang disebut hari ibu, juga bertepatan dengan hari kelahiran putri kecilku yang artinya dimana untuk pertama kalinya aku lahir sebagai ibu, dan Allah pun kembali mempercayaiku untuk menjadi ibu yang kedua kalinya. Ya, di bulan november aku dinyatakan hamil anak kedua.masyaallah, nikmat tuhan mana yang mampu kudustakan. Senang, tentu saja, karena suamiku sudah sangat berharap begitupula dengan putri kecilku yang akan menjadi kakak.ia antusias sekali memiliki adik, apalagi aku dinyatakan hamil setelah sebulan pasca rumah kami selesai dibangun meski belum semuanya.masyaalah, rezekimu sungguh nyata.

Tetapi berat, kenapa? Ya cukup berat kulalui karena kehamilanku yang kedua aku mengalami hiperemesis gravidarum yang cukup parah ,yang membuatku bolak balik harus berurusan dengan infus,selang dan obat – obatan demi kesehatan ibu dan adek bayi. Sakit, tentu saja. Bahkan aku sampai bolak balik keluar masuk rs hingga opname, cek di klinik bpm, dokter spog dll, namun keluhan tak kunjung mereda, hingga ketiga kalinya drop aku harus mendapat perawatan intensif total dengan infus terpasang kembali. Berat badan menurun drastis, karena aku benar benar kehilangan nafsu makan, emesis yang berlebihan hingga menyebabkan luka lambung  dan semua bentuk makanan ditolak. Imbasnya , badanku drop.

Emosiku jadi campur aduk, kadang hilang rasa ikhlas berganti rasa hampir menyesal, kemudian istigfar sadar lagi. Pasca membangun rumah, tentu saja keadaan finasial kami mulai dari nol lagi alias tabungan ludes, sementara proses kehamilanku yang kedua benar benar menguras kantong.Yang paling membuatku sedih adalah berimbas pada putri sulung kami, meski sebenarnya ia sudah memahami kondisi ibunya namun dalam hati kecil ini merasa berdosa, sudah pantaskah ia dipaksa mengerti hal ini. Banyak hal dimana akhirnya aku mengesampingkan dia karena keadaanku, dan membuat dia memahami. Aku mulai dipusingkan dengan kondisi badanku hingga membuatku tidak bisa fokus pada anak sulungku, aku mulai menjauhkan diri meski hal ini juga menjadi waktu bonding yang baik untuk ia dan ayahnya, namun proses adaptasi yang benar benar bikin pusing dan budreg. Aku mengesampingkan hari ultahnya, mengesampingkan janji janjo liburan karena kondisi yang tidak memungkinkan, bahkan hingga ia bolak balik bertanya  kapan mama sembuh? Aku kangen jalan jalan sama mama. Sedih bukan kepalang.

Bukan hanya itu,aku pun jadi serimg absen, karena kondisi yang sulit diajak kerja sama dan semua yang kulalui cukup membuatku stress, beruntungnya aku memiliki atasan yang super duper pengertian,  Sudah berusaha melawan namun keluhannya tak kunjung mereda.dokter spog ku hanya bisa memberi motivasi begitupula dengan orang – orang disekitarku, sahabat – sahabatku, nikmati saja, semua akan membaik dengan sendirinya. Perasaan bersalah karena merepotkan banyak orang sekitar membuat keadaanku tidak membaik, stress berat tentu saja.aku bahkan bingung dengan diriku sendiri.

Tapi pada akhirnya aku merenungi banyak hal, aku mulai melatih diriku memantapkan diriku untuk lebih banyak berfikir positif. bisa jadi semua yang kualami ini adalah sebuah anugrah bukan ujian.anugrah melatih kesabaran dan imanku, anugrah untukku lebih memperhatikan diriku, dan lebih sadar akan kehadiran malaikat kecil didalam rahimku. Anugrah untukku lebih banyak istigfar, lebih banyak ibadah dan lebih dekat dengan Allah swt. Apa yang kita benci bisa jadi ia sangat baik untuk kita.bisa jadi kenapa tubuhku bereaksi seperti ini adalah cara tubuhku melindungi anakku, karena dokter menyatakan ia sehat dan baik-baik saja. Masyaallah, ampuni aku.kenapa aku harus merasa begitu berat, jika semua yang terjadi adalah wujud cintamu padaku, bukankan kepayahan dalam mengandung memiliki pahala yang luar biasa, kadang dalam emosi kita melupakan banyak hal.astagfirullah hal adzim.

Bagaimanapun, semua diluar kontrol kita sebagai manusia. Allah sudah sangat adil, dan Allah tak pernah menguji hambanya diluar batas kemampuannya, toh bagaimanapun meski berat sampai detik ini kami bisa melewatinya, tanpa sadar, semua berjalan dengan semestinya, itu kadang yang luput untuk kita syukuri nikmatnya, ya allah sabarkan diriku, bisa jadi segala keadaan ini adalah nikmat yang justru diharapkan orang lain, ingatkan aku akan hal itu, jangan biarkan hati ini mengeluh, alhamdulilah, bahkan tanpa terasa bulan desember hampir berlalu, itu artinya tahun akan berganti, begitupula usia kehamilanku akan bertambah, semoga segala kepayahan ini akan mereda dengan bertambah nya usia kandunganku, bantu aku bersabar dan kuat.jangan biarkan aku menyerah.Allah sudah mempercayaiku, dengan malaikat malaikat kecilku.masyaallah, fabbi ayyi alla irrobikumma tukadziban. Semoga dengan datangnya tahun baru akan datang pula hari hari baru yang lebih menyenangkan.barakallahu,bismillah.

Refleksi 2017, tak semua hidup harus selalu gembira,kadangkala kita butuh sedih untuk banyak bersyukur. Mari menyongsong harapan – harapan baru yang lebih indah, semoga Allah mengabulkan.

Hari ini aku bersyukur , infus sudah dilepas dan keadaanku membaik. ..

Hari ini aku bersyukur akhirnya anakku bisa berlibur meski harus bersama tantenya, dan ia tidak rewel. Allah memberi pertolongan lewat tangan yang lain, hingga hatiku sedikit terbebas dari rasa bersalah…

Hari ini aku bersyukur, sekitar mulai memahami kondisiku dan mulai memberiku ketenangan untuk membiarkan aku menikmati waktuku sendirian, kadang kita butuh untuk menyendiri..

Hari ini aku bersyukur akan seluruh cinta dari suamiku yang begitu sabar.

Jangan biarkan ku mengeluh ya Allah.

Banyuwangi, dipagi yang sejuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s